Jakarta – Sudah tahu kan kalau batuk terdiri dari dua macam? Sederhananya, ada batuk berdahak dan batuk kering. Nah, obat untuk mengatasi kedua jenis batuk tersebut tidaklah sama.

Untuk batuk kering, bisa menggunakan penekan batuk (cough suppressants). Sesuai namanya, obat batuk berupa cough suppressants bertujuan untuk menekan batuk. Lantas, bagaimana dengan batuk berdahak pada anak? Obat batuk anak seperti apa yang aman untuk dikonsumsi?

Obat Batuk Berdahak untuk Anak
Seperti penjelasan di atas, obat batuk kering dan berdahak tidaklah sama. Setidaknya ada dua jenis obat batuk berdahak yang bisa digunakan pada anak-anak, yaitu:

1.Ekspektoran

Obat batuk anak jenis ekspektoran dapat membuat batuk lebih efektif dengan meningkatkan produksi lendir di paru-paru dan saluran udara. Mengonsumsi ekspektoran mampu mengeluarkan dahak yang tertinggal di saluran pernapasan. Obat ini membuat pernapasan terasa lebih lega. Salah satu jenis obat batuk berdahak jenis ekspektoran adalah guaifenesin.

Obat batuk berdahak ini mampu meredakan penumpukan dahak di saluran pernapasan (contohnya akibat flu atau bronkitis akut). Obat guaifenesin bekerja dengan mengencerkan dahak, sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan dari saluran pernapasan.

Hal yang perlu digarisbawahi, ibu harus berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memberikan obat batuk berdahak guaifenesin pada anak-anak di bawah usia 6 tahun.

2.Mukolitik

Obat batuk berdahak jenis mukolitik berfungsi seperti ekspektoran. Obat ini bekerja dengan mengencerkan dahak, sehingga lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Obat batuk anak jenis mukolitik yang bisa digunakan adalah bromhexine.

Bromhexine bekerja dengan cara menghambat kerja sel yang memproduksi dahak, sehingga menghasilkan dahak yang tak kental, dan mudah dikeluarkan.

Obat batuk berdahak golongan mukolitik terbilang aman digunakan. Akan tetapi, bila dikonsumsi berlebihan atau tidak sesuai dengan dosisnya, maka dapat menimbulkan beberapa efek samping. Contohnya pusing, sakit kepala, atau rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Ingat, obat batuk berdahak tidak disarankan untuk diberikan pada anak berusia di bawah dua tahun. Oleh sebab itu, cobalah konsultasikan pada dokter anak sebelum memberikan obat batuk berdahak pada anak.

Kapan Perlu Ke Dokter?

Pada beberapa kasus, batuk berdahak pada anak bisa saja berlangsung lama meski telah diberikan obat batuk anak. Oleh sebab itu, segeralah periksakan ke dokter bila batuk berdahak berlangsung lebih dari seminggu meski sudah minum obat. 

Tak hanya itu saja, segera temui dokter bila batuk berdahak pada anak disertai:

  • Dahak kental, berbau busuk, berwarna hijau kekuningan (bisa jadi merupakan infeksi bakteri).
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Gatal-gatal atau wajah atau tenggorokan bengkak dengan kesulitan menelan.
  • Telah melakukan kontak dengan seseorang yang mengidap TBC.
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja atau keringat malam (bisa jadi tuberkulosis).
  • Batuk berlangsung lebih dari 10 hingga 14 hari.
  • Batuk yang menghasilkan darah.
  • Demam (mungkin menjadi tanda infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik).
  • Suara bernada tinggi (disebut stridor) saat menarik napas.
  • Batuk hebat yang dimulai dengan cepat.
  • Batuk terjadi pada anak di bawah usia dua tahun, disertai demam tinggi.

Nah, bila Si Kecil mengalami gejala-gejala di atas dan tak kunjung membaik, segeralah periksakan dirinya ke rumah sakit pilihan.

Leave a Reply