Jakarta – Berbeda dengan diabetes tipe 2 yang terjadi akibat resistensi insulin, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak memproduksi insulin. Hal ini membuat pengidap diabetes tipe 1 perlu tambahan insulin dari luar, agar glukosa yang masuk ke tubuh dapat diubah menjadi energi.

Normalnya, kadar gula darah dikontrol oleh hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Ketika makanan dicerna dan masuk ke aliran darah, insulin akan mengikat glukosa dalam darah dan membawanya masuk ke sel untuk diubah menjadi energi. Namun, pada pengidap diabetes, tubuh tidak dapat mengolah glukosa menjadi energi. Akibatnya, glukosa akan menumpuk di dalam darah.

Jantung Koroner sebagai Komplikasi Diabetes Tipe 1
Jika tidak diobati dengan baik, diabetes tipe 1 dapat menyebabkan komplikasi. Salah satunya adalah penyakit jantung koroner, yaitu ketika pembuluh darah jantung tersumbat oleh timbunan lemak. Kondisi ini lama-kelamaan dapat membuat pembuluh semakin menyempit dan menyebabkan aliran darah ke jantung berkurang.

Lalu, mengapa diabetes tipe 1 dapat menyebabkan jantung koroner? Alasannya, karena diabetes dapat menyebabkan dinding pembuluh darah menebal dan menghambat aliran darah. Hal ini membuat penyumbatan pembuluh darah jadi lebih rentan terjadi. Terlebih jika kondisi diabetes tidak diobati dengan baik.

Sebenarnya, bukan hanya penyakit jantung koroner saja yang bisa menjadi komplikasi diabetes tipe 1. Jika tidak diobati, kondisi ini bisa memicu berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya, seperti risiko serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke.

Berbagai Komplikasi Diabetes Tipe 1 Lainnya

Selain penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes tipe 1 yang tidak diobati juga dapat memicu berbagai komplikasi serius lainnya, seperti:

  • Hipoglikemia. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah yang terlalu rendah. Komplikasi ini dapat terjadi karena suntik insulin yang terlalu banyak, atau kurangnya asupan karbohidrat atau olahraga yang berlebihan.
  • Hiperglikemia. Kebalikan dari hipoglikemia, kondisi ini terjadi ketika kadar gula terlalu tinggi. Misalnya, akibat porsi makan yang terlalu banyak atau kurangnya dosis insulin. 
  • Kerusakan saraf (neuropati). Diabetes dapat merusak dinding pembuluh darah kecil (kapiler) yang memberi nutrisi pada saraf, terutama saraf di kaki. Kondisi ini memicu rasa nyeri, sensasi terbakar, atau mati rasa di ujung jari kaki. Selain itu, kerusakan saraf juga dapat terjadi di saluran pencernaan, dan menyebabkan pengidap mengalami mual, muntah, diare atau malah sembelit. 
  • Kerusakan ginjal (nefropati). Kadar gula yang terlalu tinggi mampu merusak sistem penyaringan pada ginjal. Jika terjadi kerusakan yang cukup parah, pengidap dapat mengalami gagal ginjal, atau bahkan perlu menjalani cuci darah (dialisis) dan transplantasi ginjal.
  • Kerusakan mata. Diabetes meningkatkan risiko kerusakan mata seperti katarak dan glaukoma. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah retina (retinopati diabetik) yang bisa memicu kebutaan.
  • Disfungsi seksual. Pada pria, terutama yang merokok, kerusakan saraf dan pembuluh darah dapat memicu disfungsi ereksi. Sementara itu, pada pengidap diabetes wanita, disfungsi seksual yang terjadi dapat meliputi vagina kering, sulit meraih orgasme, atau nyeri saat berhubungan intim.

Leave a Reply

You may also like