Jakarta – Sudah tahu betapa pentingnya peran jantung dalam kehidupan? Organ ini berdetak sebanyak 100 ribu kali, dan mengalirkan darah hingga 14 ribu liter tiap harinya. Darah yang dipompa ini membawa nutrisi dan oksigen yang diperlukan oleh setiap sel-sel dalam tubuh. Nah, sudah terbayang apa jadinya bila jantung bermasalah?

Di Indonesia, berdasarkan Sample Registration System, penyakit jantung merupakan penyakit kedua yang menyebabkan banyak kematian. Nah, salah satu jenis penyakit jantung yang perlu diwaspadai adalah penyakit jantung koroner.

Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Hati-hati, arteri ini bisa semakin menyempit bila lemak makin menumpuk. Alhasil, aliran darah ke jantung pun akan berkurang.

Awas, penyakit jantung koroner yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menimbulkan komplikasi serius, bahkan kematian. Nah, pertanyaannya kapan sih pengidap jantung koroner perlu melakukan prosedur operasi?

Kapan Perlu Dioperasi?
Pada dasarnya setiap kasus penyakit jantung koroner tidak harus selalu diatasi melalui prosedur operasi. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), perawatan penyakit jantung koroner bergantung seberapa parah penyakit, gejala, dan kondisi kesehatan pasien.

Perubahan gaya hidup sehat adalah salah satu cara untuk mengatasi penyakit ini. Pasien direkomendasikan untuk menerapkan gaya hidup sehat seperti, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, hingga rutin berolahraga.

Perubahan gaya hidup ini mungkin dibarengi dengan konsumsi obat-obatan, seperti obat pengencer darah hingga penurun kolesterol. Namun, apa jadinya bila dua cara tersebut tidak efektif mengatasi penyakit jantung koroner?

Nah, di sini prosedur operasi mungkin akan diperlukan. Tindakan operasi akan dilakukan bila obat dan perubahan gaya hidup tidak efektif untuk mengatasi gejala yang dialami pasien. Operasi juga akan dilakukan bila penyempitan pembuluh darah disebabkan oleh penumpukan ateroma.

Ada berbagai jenis operasi yang dapat dilakukan pada pasien penyakit jantung koroner. Contohnya seperti memasang ring jantung, operasi bypass jantung, hingga transplantasi jantung. Untuk transplantasi jantung, tindakan ini dilakukan bila kerusakan jantung sudah sangat parah, dan tidak lagi bisa diatasi dengan obat-obatan.

Nah, bagi kamu atau terdapat anggota keluarga yang memiliki masalah jantung, segeralah periksakan diri ke rumah sakit pilihan. Semakin dini pengobatan, maka semakin besar pula kemungkinan jantung untuk sembuh.

Kenali Gejala Penyakit Jantung Koroner
Ketika menyerang seseorang, penyakit jantung koroner bisa menimbulkan berbagai keluhan pada pengidapnya. Menurut NHLBI, penyakit jantung koroner seperti serangan jantung, dan dapat menyebabkan gejala berupa angina.

Seseorang yang mengalami angina akan merasa tertekan atau nyeri pada bagian dada, dan sesak napas. Rasa sakit atau ketidaknyamanan biasanya dimulai di belakang tulang dada, tetapi bisa juga terjadi di lengan, bahu, rahang, tenggorokan, atau punggung.

Di samping itu, penyakit jantung koroner juga bisa menimbulkan gejala seperti:

Keringat dingin.
Pusing.
Sakit kepala ringan.
Mual atau gangguan pencernaan.
Sakit leher.
Sesak napas, terutama saat beraktivitas.
Gangguan tidur.
Kelemahan.
Menurut NHLBI, wanita agak lebih kecil kemungkinannya dibandingkan pria untuk mengalami nyeri dada. Sebaliknya, mereka lebih cenderung mengalami:

Pusing;
Kelelahan;
Mual;
Tekanan atau sesak di dada;
Sakit perut.
Di samping itu, penyakit jantung koroner kronis (jangka panjang) dapat menyebabkan gejala seperti berikut ini:

Angina;
Sesak napas saat aktivitas fisik;
Kelelahan;
Sakit leher.

Nah, bagi kamu atau terdapat anggota keluarga yang mengalami gejala-gejala di atas, bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan?

Leave a Reply

You may also like